We Serve With Hearth…
02 Nov 2021

Terapkan Konsep Kawasan & Bangunan Hijau, Potensi Penghematan Energi Kota Bandung Capai 62 Gwh

Aksi mitigasi atas efek pemanasan global kini menjadi perhatian semua pihak dan implementasinya mulai meluas di hampir semua aspek dan bidang kehidupan manusia, salah satunya di bidang arsitektur dan konstruksi bangunan. Dalam satu dekade terakhir, green building atau bangunan hijau menjadi topik hangat yang sering diperbincangkan oleh para pakar dan mulai diimplementasikan pada gedung komersil maupun milik Pemerintah dan perumahan rakyat.

Bangunan hijau adalah bangunan yang memperhatikan aspek lingkungan sehingga bangunan tersebut tidak memberikan efek negatif terhadap lingkungan atau mengeluarkan emisi yang terlalu tinggi dalam mengeluarkan emisi efek rumah kaca. Desain rencana bangunan hijau antara lain meliputi sirkulasi udara, mengelola sumber energi dan air, tata kelola lahan hijau, bahan yang digunakan dan sebagainya.

Adalah Kota Bandung, salah satu yang melakukan pengembangan konsep green building atau Bangunan Gedung Hijau pada pembangunan bangunan di kawasannya. Dimulai tahun 2018, Wali Kota Bandung saat ini menginisiasi implementasi Bangunan Hijau di Bandung dan dilanjutkan dengan workshop, diskusi dan seminar untuk menentukan parameter yang sesuai dengan kondisi kota serta pengumpunan data sekunder dan survei lapangan di tahun berikutnya.

“Agustus 2016, Peraturan Wali Kota (Perwal) Bandung tentang Bangunan Gedung Hijau disahkan dan mulai diintegrasikan dalam Proses Perizinan Bangunan,” terang Irfan Febianto, mewakili Dinas Penataan Ruang Kota Bandung, dalam pejelasannya di hadapan peserta Workshop Specific Energy Consumption (SEC) dan Sosialisasi Pemasangan PV Rooftop dan Smart Building untuk Bangunan Gedung Komersial, yang digelar hari ini (9/10) di Bandung.

Perwal Bandung mengatur aspek-aspek implementasi Bangunan Gedung Hijau, yaitu efisiensi energi, pengelolaan air, pengelolaan kualitas udara dalam ruangan, dan pengelolaan lahan. Implementasi Bangunan Gedung Hijau mencakup seluruh jenis bangunan dan menjadi satu kesatuan yang dipersyaratkan untuk Perizinan Bangunan. “Perwal ini kami susun sesuai dengan karakteristik Kota Bandung, dan bagaimana agar Perwal ini mudah diimplementasikan oleh Pemangku Kepentingan, masyarakat, Pemerintah Kota, arsitek dan perencana lainnya,” imbuhnya.

Tantangan kami, lanjut Irfan adalah bagaimana mensimplifikasi Perwal Bangunan Gedung Hijau agar dapat terintegrasi dengan Perizinan Bangunan, khususnya untuk bangunan berlantai rendah (1-4 lantai hunian dan non hunian). Berbeda dengan kota lainnya, 90% bangunan di Bandung adalah berlantai rendah, dimana 80% diantaranya adalah hunian dengan kondisi menyebar secara acak, spontan, membangun sendiri dan beberapa berubah fungsi menjadi bangunan semi komersial dan industri rumah skala kecil. Kondisi demikian memungkinkan penggunaan energi yang sangat besar di Kota Bandung.

Sebanyak 5.345 bangunan di Kota Bandung direncanakan “hijau” dengan area lantai seluas 1,5 juta m2. “Potensi penghematan energi dengan implementasi Bangunan Gedung Hijau adalah 62.612 Mwh. Potensi penghematan biaya listrik sebesar 6,8 Juta USD atau setara dengan Rp 89 Miliar. Berdasarkan pemetaan kami, implementasi Bangunan Gedung Hijau ini dapat berpotensi mengurangi gas rumah kaca sebesar 52,6 ribu ton dan hemat air sebanyak 309,897m3 setara Rp 3,8 Miliar,”

Sekilas Tentang Workshop Specific Energy Consumption (SEC)

Kegiatan Workshop Specific Energy Consumption (SEC) dan Sosialisasi Pemasangan PV Rooftop dan Smart Building untuk Bangunan Gedung Komersial yang dilaksanakan di Bandung ini merupakan kali keempat pelaksanaan kegiatan, yang sebelumnya telah di gelar di Pekanbaru (11/9), Jakarta (18/9), dan Bali (25/9). Selanjutnya kegiatan serupa akan kembali digelar di tiga kota lainnya yaitu Semarang, Surabaya dan Medan. Peserta workshop yang hadir berasal dari perwakilan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Pengelola Gedung Komersial, PT PLN (Persero), Asosiasi, BPPT, B2TKE, PT Unilever Tbk, dan Tim Survey SEC itu sendiri.

Kepala Subdit Penyiapan Program Konservasi Energi, Devi Laksmi, menjelaskan bahwa penerapan smart building di gedung Pemerintah dan gedung komersil yang dibagikan pada sharing session workshop ini akan menjadi salah satu contoh yang dapat menggambarkan success story sehingga dapat direplikasi bagi perusahaan lainnya.

Penggunaan Smart building adalah cara bagaimana mengintegrasikan pasokan dengan penggunaan energi bagi bangunan gedung melalui pengaturan yang lebih hemat dan dapat dilakukan secara otomatisasi dan pengendalian (kontrol).

Selain itu, Specific Energy Consumption (SEC) yang saat ini tengah dilakukan bekerja sama dengan Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dilaksanakan untuk mengetahui intensitas konsumsi energi pada 276 obyek survei yang tersebar di 7 provinsi, dimana objek yang paling banyak adalah hotel dan rumah sakit.

Tujuan SEC adalah mencari benchmark, mengupdate data dari kajian tahun 2009 yang dilakukan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan kajian tahun 2015 yang dilaksanakan oleh USAID, dan terakhir oleh BCA Building benchmark untuk gedung di Singapura. Hasil survei juga digunakan sebagai masukan untuk revisi PP No.70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, serta memperbaiki data secara nasional. (RWS)
Admin Okt 2021

05 Jun 2021

Mengenal Konsep Taman Rumah Sehat Tropis Bagi Rumah Anda

Rumah idaman bukan hanya rumah yang sekedar indah dan mewah, akan tetapi rumah yang juga memiliki konsep rumah sehat yang seharusnya menjadi rumah idaman Anda sekeluarga. Dengan begitu para penghuninya akan merasa lebih aman dan nyaman.

Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dengan benar. Bagi Anda yang ingin menerapkan konsep rumah sehat bisa menerapkan beberapa konsep rumah sehat berikut agar rumah Anda semakin nyaman saat dihuni.

  1. Pencahayaan Yang Baik
    Pencahayaan yang cukup akan membuat rumah semakin sehat. Apabila Anda memiliki rumah dengan cahaya yang minimum maka akan rawan sekali dengan gangguan kesehatan. Sehingga hal yang seperti ini harus benar-benar dihindari.
    Cahaya yang cukup juga bisa didapatkan melalui jendela. Maka di sinilah peran penting jendela yang harus dimiliki setiap rumah. Selain itu, Anda juga bisa memanfaatkan genteng kaca untuk memperoleh pencahayaan lebih.
  2. Ventilasi Udara Yang Cukup
    Rumah dengan konsep rumah sehat harus memiliki ventilasi udara yang cukup. Hal ini berarti agar sirkulasi udara lebih lancar dan udara segar akan mudah masuk, sehingga Anda tidak merasa kurang udara saat berada di dalam rumah.
    Ventilasi udara juga sangat berpengaruh pada kadar oksigen yang ada. Dengan ventilasi udara yang cukup baik maka oksigen di dalam rumah akan tetap terjaga dengan baik.

    Anda bisa menerapkan hal berikut dengan memasang jendela. Apabila sudah memiliki jendela, maka secara rutin harian dengan membukanya Anda akan memperoleh udara secara optimal.
  3. Lantai Kedap Air
    Lantai dengan kedap air juga salah satu kriteria rumah sehat. Anda bisa menggunakan semen, keramik, ubin, kayu atau yang sejenisnya. Selain itu kebersihan area lantai pun harus tetap diperhatikan sehingga akan terasa nyaman untuk ditempati. Sedangkan lantai yang kotor akan membuat gangguan kesehatan mudah datang sehingga perlu dihindari.
  4. Atap Atau Langit-langit
    Untuk rumah di daerah Indonesia yang tropis ini sangat disarankan untuk memakai atap dengan bahan genteng tanah liat. Dengan begitu panas matahari akan terserap dengan baik. Hindari penggunaan seng karena suasana panas akan semakin terasa.
    Adapun ketinggian langit-langit juga perlu diperhatikan. Jangan terlalu pendek karena panas akan mudah terasa.
  5. Air Yang Bersih
    Tentunya rumah yang sehat harus memiliki sumber air bersih bagi penghuninya dengan begitu proses membersihkan diri seperti mencuci dan mandi atau pun yang lainnya bisa terpenuhi dengan baik.
  6. Sistem Pembuangan Limbah
    Setiap rumah tentu menghasilkan limbah masing-masing, maka dari itu sistem pembuangannya pun harus diperhatikan dengan benar. Sebaiknya tempat pembuangan limbah sangat jauh dengan sumber air. Buat juga tempat pembuangan yang tertutup agar tidak mencemari udara di sekitarnya.
  7. Resapan Air
    Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor dapat dihindari jika kita menyediakan daerah resapan air yang cukup luas. Daerah resapan air yang luas di lahan yang sempit dapat dicapai dengan mengoptimalkan penggunaan lapisan/permukaan tembus air seperti rumput dan grass block pada halaman, parkiran mobil ( carport), dan jalan agar air dapat mengalir dan meresap secara alami ke dalam tanah.

Itulah beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam membuat konsep rumah sehat. Dengan menerapkan beberapa kriteria di atas tentu rumah akan terasa lebih aman dan nyaman untuk dihuni.

Admin 081294151532

16 Feb 2021

MEWUJUDKAN KOTA HIJAU MELALUI DESAIN ESTETIK RUANG TERBUKA HIJAU

Apakah arti kota hijau? Apakah kota yang keseluruhan bagian kota memiliki unsur berwarna hijau? Ya, berbicara mengenai kota hijau mengungkapkan sebuah kota yang erat dengan lingkungan dan infrastruktur hijau dengan desain landscape yang menjadi penyeimbang lingkungan. Saat ini kota-kota di Indonesia berkembang ke arah pembangunan fisik sehingga tak jarang timbul banyak masalah seperti kepadatan bangunan, kepadatan guna lahan bahkan penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian khusus untuk pengembangan kualitas lingkungan melalui pengembangan kota hijau dengan berfokus kepada peningkatan kualitas lingkungan, penambahan ruang terbuka hijau (RTH), dan diterapkannya unsur infrastruktur hijau sebagai unsur utama kota hijau.

Program pembangunan/revitalisasi taman-taman kota yang melibatkan masyarakat secara langsung. Program-program tersebut, seperti “Urban Farming”, Green and Clean”, “menjadi kota Berwarna Bunga”, dan meningkatkan kembali implementasi 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dalam pengelolaan sampah, dilakukan dalam rangka membentuk kota hijau yang sehat. Program-program ini telah meningkatkan RTH yang di bawah 10% menjadi 20,25% (Forum Diskusi Nasional Perkotaan (Bappenas), 2011). Hal tersebut berdampak langsung terhadap pengembangan kota karena berdampak kepada pemeliharaan ruang terbuka hijau, peningkatan kualitas lingkungan, pengelolaan persampahan dan perbaikan kampung kumuh.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan kota hijau sebagai konsep pengembangan lansekap perkotaan menjadikan kota memiliki peningkatan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pengembangan kota hijau melalui pembangunan ruang terbuka hijau memberikan dampak dalam menjaga fungsi ekologis, sosial, budaya, dan fungsi estetika, yang masing-masing fungsi saling melengkapi satu sama lain. Ruang terbuka hijau menjadi salah satu elemen penting menuju kota hijau yang dapat mencegah terjadinya penurunan kualitas udara maupun meningkatnya emisi dari angkutan/mobil, industri, dan lain-lain, serta menjadi sarana hiburan dan tempat bersantai yang akan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya. Perwujudan kota hijau memerlukan faktor-faktor penunjang terutama inisiatif dari pemerintah kota untuk melakukan kebijakan dan program pembangunan kota, pengembangan kelengkapan fisik ruang terbuka hijau, dan kemudahan aksesibilitas oleh masyarakat sehingga RTH tidak hanya memberi fungsi ekologis dan estetika saja tetapi fungsi sosial dan budaya masyarakat sebagai ruang publik.

Januari 021 -Admin 081294151532